Di Bawah Pohon Kersen

Mala tampak sedang berusaha memetik buah kersen untukku sementara diriku hanya diam mengamati. Menerawang ke langit, teringat kisah lima belas tahun silam.
Aku tumbuh di suatu kota yang dekat dengan taman bermain, kolam renang, stadion, lapangan tenis, terminal kecil, dan banyak pohon kersen. Pohon yang cukup tinggi untuk anak lima tahun. Berjinjit pun tak mampu meraih. Hal terbodoh yang pernah kulakukan di bawah pohon kersen adalah menyuruh kakakku untuk menaikkanku ke atas dan aku merengek minta turun karena takut ketinggian. Kakak tak mau membantuku turun meskipun tanganku begitu erat mencengkram batang pohon. Ia justru ikut naik ke atas memetik buah kersen yang banyak dan dimasukkan ke saku bajunya.
Pandanganku sedikit teralih dari melihat ke bawah menjadi ke sisi pohon kersen lain. Di sana ada seorang anak laki-laki yang sangat familiar dari segi perawakannya. Saat ia duduk di batang pohon kersen dan menikmati buahnya aku takjub laki-laki itu siswa terpandai di Taman Kanak-Kanakku. Aku kehilangan ketakutanku pada ketinggian. Aku tersenyum simpul.
Tiba-tiba kakak berdiri di batang tempatku duduk. Aku tengadah ke atas. Ia memberiku beberapa buah kersen ke telapak tanganku. Aku ingin meminta banyak lagi tidak hanya sebutir dua butir kalau perlu semua yang ada di sakunya. Tapi kakak hanya memberiku sepuluh saja. Padahal aku ingin mengikuti anak laki-laki di seberang sana. Sepertinya ia punya banyak kersen tak seperti yang ada di tanganku. Tak apalah yang penting aku bisa mengikuti anak laki-laki itu.
Ia memasukkan beberapa butir langsung ke mulutnya. Tak tahu pasti berapa tapi sepertinya akan habis jika aku melakukan hal yang sama. Akhirnya setiap kali ia memasukkan beberapa butir ke mulutnya aku hanya memasukkan satu butir buah kersen.
Saat ia mencari buah kersen lagi, aku menunggunya. Masih ada lima butir. Masih ada tiga butir. Masih ada tiga butir dan dia sudah turun dari pohon. Terlihat memakai sandalnya lagi dan berjalan melewati pohon kersen yang kunaiki. Ia tak menatap ke atas. Beruntung dia tak melihatku tergantung dengan ekspresi yang abstrak. Takut iya, senang iya.
Keesokan harinya aku menatapnya dengan sangat tajam, saat ia melihatku, kuberikan senyuman termanisku mengalahkan gula, mengalahkan manisnya cokelat dan mengalahkan segalanya yang manis. Tapi ia tak membalasnya.
Di hari yang lain, aku membuntutinya sampai ke depan rumahnya. Ketika ia berbalik ke belakang, aku ketahuan. Aku hanya meringis, khas anak kecil yang kepergok sedang membuntuti. Aku menjatuhkan sesuatu tapi tak kupungut karena aku memilih berlari menjauh. Sesuatu yang kujatuhkan itu tak penting karena yang terpenting aku mengetahui rumahnya.
Di hari lain, aku belajar memanjat pohon jambu di depan rumah tapi terus saja meluncur ke bawah, tak pernah bertahan sampai atas. Aku duduk lesu setiap kali gagal. Tapi aku tetap berusaha mencobanya. Entah mengapa batang pohon jambu itu begitu licin membuatku merosot ke tanah. Padahal pohon jambu di depan rumah tak begitu tinggi, batangnya pun tak begitu besar. Lebih tinggi pohon kersen dan lebih besar pohon kersen.
Di hari lain lagi, ada lomba mewarnai di sekolah dengan gambar dua anak sedang dibawah pohon terlihat begitu asyiknya. Aku menyebutnya pohon kersen. Padahal dari segi manapun tak terlihat seperti pohon kersen. Tapi dengan penuh keyakinan aku mengatakan dalam hati perempuan di gambar itu kelak adalah aku, lalu yang laki-laki adalah dia dengan begitu pasti aku adalah pemenang tanpa harus mewarnainya.
Di hari lain ada pengumuman festival tahunan. Dimana harus memakai kostum, entah itu profesi, baju daerah atau sesuatu yang menarik. Kebetulan tema dari sekolahku adalah baju daerah. Setiap anak berjalan berpasangan dan sialnya aku tak berpasangan dengan dia melainkan anak yang paling kubenci di sekolah. Karena pernah mendorongku sampai jatuh dan dibawa ke puskesmas.
Di hari lain ia tak masuk. Kata bu guru ia sedang ikut lomba. Aku merasa kesepian. Tak ada yang menarik perhatianku di kelas. Aku mengusir teman-temanku yang mengajak bermain.
Tepat seminggu berlalu aku diajak kakakku memetik buah kersen di dekat taman bermain taman bermain, kolam renang, stadion, lapangan tenis dan terminal kecil seperti minggu sebelumnya. Dengan penuh antusias aku mengiyakan ajakannya. Kali ini aku tak mau naik, aku memutuskan di bawah saja, menunggu buah jatuh. Padahal alasan sebenarnya agar jika dia datang dia bisa melihatku dan jika dia pergi dia bisa melihatku.
Beberapa jam aku menunggu. Duduk di atas rumput yang bergoyang. Akhirnya aku bosan dan memilih berjalan-jalan memutari pohon-pohon kersen lainnya. Mungkin aku bisa menemukannya. Benar saja saat aku mencari di pohon kersen yang ke sepuluh aku menemukannya. Ia sedang memejamkan matanya. Entah tidur atau bagaimana yang kutahu dia tak merasakan kehadiranku. Aku melihatnya lagi dan lagi, terus menerus dengan beberapa kali berkedip. Aku masih tetap berdiri di bawah pohon kersen seperti angin yang tak jemu membelai rambutku sampai ia menjatuhkan sesuatu ke bawah. Aku segera mencari tempat untuk bersembunyi di bawah pohon kersen tapi di sisi lain.
Ia terlihat berjalan ke arah pohon kersen tempat persembunyianku. Ia berdiri di depanku.
Aku tertegun.
Aku diam.
Aku tak habis pikir ia berhasil menemukanku.
“Omink, ini milikmu,” ujarnya sambil memberikan sebuah benda padaku kemudian berlalu. Dia tak tersenyum sama sekali. Ia memang jarang tersenyum dan sering mengacuhkanku. Aku sudah tahu itu tapi yang tak kuketahui mengapa ia memberiku barang yang ada di tanganku. Padahal itu bukan milikku. Itu buah kersen. Tepatnya sekantong plastik buah kersen. Bukan barang yang kujatuhkan tempo lalu.

4 thoughts on “Di Bawah Pohon Kersen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s