Menunggu Dedik di Bawah Kersen

SORE, aku masih menunggumu Dedik
Menunggu sejak pertemuan kita kemarin Selasa
Di bawah pohon Kersen dengan buah yang tengah ranum-ranumnya
Usai meranggas di musim kemarau lalu
Oh, Kita memang tidak menulis janji di batang kersen tua ini.
Kau juga tak pernah bilang menungguku di bawah Kersen pada hari setelah Selasa itu.
Tapi aku terus beharap bersamamu di bawahnya, termangu tanpa tahu harus bicara apa.
Juni belum habis, gerimis mulai merintis segera menjadi hujan.
Aku ingat saat aroma buah kersen yang masak beradu dengan lembut minyak wangimu kala itu
Sesekali tenganmu menyisir rambut yang dikotori bunga kersen
Itu mengapa, di bawa Kersen ini sampai sekarang aku masih menunggu
Kala matahari mulai merona di cakrawala, hingga nanti malam datang menggantikannya
Pekan hampir berakhir, wangimu seperti sihir menari-menari di hidungku yang sangat tak bangir
Buah Kersen matang masih berjatuhan
Baunya masih menusuk hidung digilas sepatu yang lewat
Bunga-bunga Kersen jatuh begitu saja karena tak lagi ada rambutmu yang dijatuhinya
Dedik, mendung bergelantung. Langit barat perlahan redup, kelabu
Aku takut guyuran hujan menghanyutkan dan menghilangkan aroma buah kersen kita.
Dedik, kapan kita jumpa

sumber: http://suriyanto.multiply.com/journal/item/49?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

aq edit namany,,,he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s